Tanggal 21 Agustus, saya berangkat ke Tasikmalaya. Awalnya sederhana saja. Mengantar siswa mengikuti lomba pidato tingkat Provinsi Jawa Barat.
Tiga hari.
Sebuah perjalanan yang seharusnya selesai ketika lomba selesai.
Tapi ternyata, tidak.
Saya berangkat bersama tiga anak hebat dari Ummul Quro—Abyan, Aliyah, dan Espandiar—bersama dua guru pendampingnya, Ustadzah Cucu Handrika dan Ustadz Riki. Saya ditugaskan untuk mendampingi murid pada saya dari MA Al-Amin, Siti Nur Ratu Karlina Putri, yang ternyata sedang membawa cerita dan dunianya sendiri.
Entah bagaimana menjelaskannya, tiga hari bersama mereka terasa seperti mengenal orang-orang yang sudah lama saya kenal.
Kami banyak bercerita. Tentang sekolah, anak-anak, perjalanan hidup, mimpi, pengalaman, bahkan hal-hal yang mungkin tidak akan diceritakan kepada sembarang orang.
Ada rasa dekat yang datang begitu saja.
Ustadzah Cucu, misalnya.
Ada bagian-bagian dari kisah hidupnya yang terasa seperti sedang membaca lembaran cerita saya sendiri. Beberapa pengalaman, beberapa luka, beberapa cara memandang hidup—terasa begitu akrab.
Mungkin itu sebabnya obrolan kami mengalir tanpa perlu banyak penjelasan. Kadang kita merasa dekat dengan seseorang bukan karena sudah lama mengenalnya, tetapi karena menemukan sedikit bagian diri kita di dalam ceritanya.
Lalu ada Ustadz Riki.
Saya banyak belajar dari cara beliau melihat sesuatu. Tenang, bijaksana, tetapi tetap dengan sisi unik yang membuat perjalanan tiga hari itu jauh dari kata membosankan.
Ada orang-orang yang mengajarkan sesuatu melalui nasihat.
Ada pula yang cukup dengan cara mereka menjalani hidup.
Beliau termasuk yang kedua.
Dan anak-anak itu...
Abyan, Aliyah, dan Espandiar.
Saya sering merasa bahwa anak-anak memang menyimpan dunia yang jauh lebih luas daripada yang terlihat dari bangku sekolah.
Abyan, misalnya. Anak kelas XII SMA yang ternyata sudah menjelajah tiga negara—Thailand, Singapura, dan Malaysia.
Pengalaman yang luar biasa untuk anak seusianya.
Tetapi yang lebih menarik bagi saya bukan hanya tempat-tempat yang pernah ia datangi.
Melainkan cara berpikirnya.
Luas. Terbuka. Berani melihat sesuatu dari sudut yang berbeda.
Saya justru merasa menjadi murid selama perjalanan itu.
Ada percakapan-percakapan sederhana yang tiba-tiba membuat saya berpikir ulang tentang banyak hal. Tentang dunia yang ternyata begitu luas. Tentang anak-anak yang mungkin selama ini kita pikir sedang belajar dari kita, padahal diam-diam mereka juga sedang mengajarkan banyak hal kepada kita.
Dan ternyata, kejutan itu bukan hanya datang dari anak-anak Ummul Quro.
Ada Ratu.
Murid saya sendiri dari MA Al-Amin.
Saya pikir selama ini saya sudah cukup mengenalnya. Ternyata saya keliru.
Perjalanan tiga hari itu seperti membuka satu pintu kecil yang selama ini belum pernah saya buka. Di baliknya, saya menemukan sisi Ratu yang tidak banyak saya tahu.
Ada kemampuan, keberanian, cara berpikir, dan cerita-cerita tentang dirinya yang membuat saya beberapa kali hanya bisa berkata dalam hati,
"Ternyata selama ini kamu menyimpan dunia sebesar ini, Nak."
Lucu rasanya.
Kita sebagai guru sering merasa sudah mengenal murid-murid kita hanya karena bertemu mereka hampir setiap hari. Kita tahu bagaimana mereka belajar, bagaimana mereka bersikap di kelas, bagaimana mereka mengerjakan tugas.
Tapi ternyata itu hanya sebagian kecil dari diri mereka.
Di luar kelas, mereka punya mimpi yang tidak pernah mereka ceritakan.
Punya pengalaman yang tidak pernah kita tanyakan.
Punya kemampuan yang belum sempat kita lihat.
Dan Ratu mengingatkan saya akan hal itu.
Bahwa setiap anak punya ruang rahasia dalam dirinya.
Ruang yang mungkin baru akan terbuka ketika mereka merasa nyaman untuk bercerita.
Dan sebagai guru, mungkin tugas kita bukan hanya mengajar mereka sampai bisa.
Tetapi juga memberi mereka cukup ruang untuk menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.
Tiga hari itu membuat saya kembali ingat bahwa menjadi guru bukan berarti selalu menjadi orang yang paling tahu.
Kadang kita hanya perlu duduk, mendengar, dan membiarkan orang lain membuka pintu-pintu pengetahuan yang selama ini tidak kita tahu ada.
Mungkin itu sebabnya saya menyebut mereka sebagai orang-orang yang membuka mata saya terhadap dunia untuk kedua kalinya.
Pertama, dunia dibukakan kepada saya oleh perjalanan hidup.
Kedua, oleh orang-orang yang saya temui di dalamnya.
Dan kali ini, Tuhan mempertemukan saya dengan mereka di sebuah perjalanan menuju Tasikmalaya.
Kami berangkat membawa nama sekolah dan membawa anak-anak untuk sebuah perlombaan.
Kami pulang membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar sebuah perlombaan.
Membawa cerita.
Membawa tawa.
Membawa kekaguman.
Membawa banyak pelajaran.
Dan mungkin, membawa sedikit bagian dari satu sama lain.
Tiga hari memang singkat.
Tetapi ada pertemuan yang tidak membutuhkan waktu lama untuk meninggalkan kesan yang panjang.
Terima kasih, Tasikmalaya.
Untuk tiga hari yang sederhana, tetapi entah mengapa terasa begitu berarti.
Untuk Ustadzah Cucu, Ustadz Riki, Abyan, Aliyah, Espandiar, dan Ratu:
terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan kecil yang ternyata membuka jendela dunia saya sekali lagi.
Dan untuk anak-anak hebat yang saya temui dalam perjalanan ini:
tetaplah tumbuh.
Tetaplah berani bermimpi.
Sebab mungkin, tanpa kalian sadari, kalian bukan hanya sedang menyiapkan masa depan kalian sendiri.
Kalian juga sedang mengajarkan kami, para guru, untuk melihat dunia dengan cara yang baru.
